Palembang - Mendekati hari raya Idul Adha 1438 H, penjualan hewan kurban mulai marak. Untuk mengantisipasi kesehatan hewan kurban tersebut, Wakil Walikota (Wawako) Palembang, Fitrianti Agustinda melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke beberapa penjual hewan kurban. Salah satunya penjual hewan kurban yang berada di Jalan Kolonel H. Burlian, Selasa (22/8).

"Salah satu yang menjadi syarat utama hewan kurban yang akan dikurbankan adalah sehat. Makanya, kita ingin memastikan semua hewan kurban yang dijual di Palembang bebas dari penyakit," ungkapnya disela-sela kegiatan inspeksi mendadak (Sidak). 
 
Fitrianti menjelaskan ada beberapa penyakit hewan kurban yang harus menjadi perhatian masyarakat yang akan berkurban. Diantaranya, cacingan, mencret, ping eye, sariawan bengkak-bengkak dan beberapa penyakit lainnya. Dari hasil tinjauan yang dilakukan di beberapa wilayah penjualan hewan kurban yang ada di Palembang, Fitri bersyukur tidak ditemukan penyakit berbahaya seperti antraks dari hewan kurban yang dijual.
 
"Berdasarkan agama juga ada kriteria hewan yang boleh di kurban. Pedagang juga kita minta agar untuk jujur berjualan dan jadikan juga berjualan untuk niat beribadah. Masyarakat yang berkurban juga jangan sembarangan berkurban," imbuhnya.
 
Fitri menerangkan, hari ini pihaknya bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan sengaja mengecek langsung. Adapun yang diperiksa adalah, semua jenis hewan kurban, sapi dan kambing. "Semua kita periksa langsung dan ini akan terus dilakukan oleh Dinas terkait agar tidak ada hewan sakit yang dijual pedagang," tukasnya.
 
Sementara itu, Kepala UPTD Kesmaped dan Laboratorium Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, drh. Dessy menyampaikan, adapun pemeriksaan yang dilakukan meliputi kesehatan fisik seperti kelengkapan gigi, kaki dan tidak cacat secara fisik. Selain itu harus berusia 2,5 untuk sapi dan 1,5 tahun untuk kambing.
 
"Keseluruhan fisiknya kita cek. Karena jika ada fisik yang kurang itu tidak layak untuk di kurban," jelasnya.
Sejauh ini pihaknya belum menemukan penyakit hewan yang parah seperti antraks, penyakit kuku dan mulut serta penyakit menular lainnya.

"Ada beberapa sapi yang kurus kita minta untuk dilakukan proses penggemukan. Sejauh ini masih penyakit biasa saja yang kita temukan," pungkasnya.