Palembang - Pemerintah Kota Palembang siap memfasilitasi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk mendapat akses permodalan melalui pinjaman dana bergulir tanpa bunga dan agunan melalui Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Perkreditan Sarana Rakyat (Pasar).

Asisten I Bidang  Pemerintahan dan Kesejahtaraan Rakyat Setda Kota Palembang, Sulaiman Amin mengatakan Pemkot Palembang  menargetkan 5000 UMKM seluruh Palembang di 16 Kecamatan dan 107 Kelurahan.
"Mulai dari penjual pempek, gorengan, mie tek-tek,  siomay, bakso, dan termasuk pedagang di pasar. Usaha mereka itu membutuhkan modal," katanya usai Rapat Pembahasan Pinjaman Dana Bergulir Bagi UMKM tanpa Bunga dan Agunan Tahun 2017, Selasa (8/8).
Disebutkan Amin, untuk tahap awal ini,  UMKM ini akan mendapat dana bergulir sebesar Rp3 juta dengan tenor/limit satu tahun.  Selanjutnya, pinjaman dapat meningkat sebesar Rp5 juta-Rp10 juta.
"Kalau nilainya besar UMKM malah takut  akan membebani mereka.  Kalau dihitung Rp3 juta dibagi 12 bulan, sekitar 270 ribu per bulan atau kira-kira hanya sekitar Rp 10 ribu per hari pedagang menyisihkan uang. Nanti kalau sudah lunas baru bisa pinjam lebih besar lagi,"  ulasnya.
Sebenarnya, sambung dia, pinjaman bergulir bukan tanpa bunga, namun bunga itu disubsidi oleh Pemkot Palembang melalui sistem penyertaan modal kepada BPR Pasar, meski  saat ini nilainya masih dalam perhitungan, namun sesuai  aturan Bank Indonesia.
Sementara Kepala Dinas UMKM dan Koperasi Kota Palembang, Hardayani mengatakan platform pinjaman hanya Rp3 juta itu cukup membantu pengusaha mikro untuk memajukan usahanya.
"Iya, platfrom Rp3 juta itu cukup, karena untuk pengusaha mikro, bahkan dulu pernah ada pinjaman hanya Rp500 ribu. Ada contoh, penjual pempek pertama pinjaman hanya Rp500 ribu, kemudian meningkat Rp1,5 juta, Rp5 juta kemudian usaha membesar sampai bisa buka toko sendiri," terangnya
Karena itu, UMKM di Palembang dapat mengembangkan usahanya dengan program ini, dengan catatan usaha itu sudah berjalan.  "Usaha harus sudah berjalan, bukan baru mau berdiri, nanti abis uangnya hanya untuk modal awal usaha, tapi ini untuk mengembangkan usaha," ulasnya.
Sedangkan untuk pendaftaran,  pelaku usaha dapat menghubungi pihak Kecamatan di masing-masing daerah. "Kita minta bantu camat dan lurah untuk dicek di lapangan," ucapnya.
Adapun untuk pertumbuhan UMKM, dikatakan Hardayani, jelang Asian Games 2018 mengalami peningkatan sebesar 15 persen untuk bidang souvenir. Namun di sisi lain, UMKM pengalami gulung tikar sebesar 10 persen yang didominasi bidang kuliner. Sedangkan untuk jumlah UMKM mencatat ada 36.100. 
"Selama ini banyak UMKM yang tidak izin atau laporan dengan kami, padahal  kalau izin itu mempermudah untuk mendapat bantuan. Penyebab UMKM gulung tikar itu banyak sebabnya, salah satunya banyaknya persaingan dan turunnya daya beli. Seperti di suatu tempat ada banyak 3-4 panjual es, artinya persaingan mereka samakin ketat," ulasnya