Palembang - Wali Kota Palembang, Harnojoyo membuka Musyawarah Daerah (MUSDA) ke-VIII Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palembang di ruang rapat Parameswara Setda Kota Palembang, Rabu (19/4). Dalam hal ini, Harno berharap MUI bisa berkerjasama dengan Pemerintah Kota Palembang untuk membangun umat Islam di Palembang.

"Mewujudkan kerjasama antara ulama dan umara (pemimpin). Karena  kami sadar diciptakan tidak sempurna,  kami harus tahu kelebihan dan kekurangan, sehingga orang lain bisa menutupi kekurangan kami,  kalau sudah kerjasama akan jadi lebih baik," tuturnya.


Dia pun berharap MUI dapat berinovasi untuk memakmurkan masjid, sebagaimana telah diketahui Pemerintah Kota Palembang telah mengiatkan sholat subuh berjamaah setiap hari.


Program ini dimulai sejak Januari 2016 lalu, telah berjalan di 16 kecamatan di Palembang.  Ke depan akan diterapkan di 107 kelurahan se-Palembang. Setelah sukses di tingkat kelurahan akan diperluas hingga ke tingakt RT dan RW.


"Kalau sholat subuh berjamaah sudah berjalan semua di tingkat RT dan RW, maka baguslah Palembang ini," harapnya.


Sementara, Ketua MUI Sumsel, Aflatun Muchtar mengatakan MUI merupakan wadah ulama, zu'ama (pemimpin), dan cendikiawan muslim, ini mencerminkan apa yang diajarkan rasul, mendidik kader seperti Khulafaur  Rasyidin (Abu Bakar As-Siddik, Umar bin Khatab, Umas bin Afwan, dan Ali bin Abi Thalib).


"Empat karakter muslim tersebut, yakni lemah lembut seperti Abu Bakar As-Siddik, tegas, seperti Umar  bin Khotab, kaya yang dermawan seperti Usman bin Afwan, dan cerdas, seperti, Ali Bin Abi Thalib. Diharapkan akan lahir di Indonesia, termasuk di Palembang, muslim yang lemah lembut, tegas, ahli ekonomi Islam, dan cendikiawan Islam.  MUI menjadi madrasah (sekolah), atau tarbiyah ( pendidikan) untuk umat Islam,"  jelas dia.


Oleh sebab itu, MUI tidak sebatas hanya  mengurusi ibadah, tetapi juga memikirkan bagaiamana pendidikan, ekonomi dan kesehatan umat.


"MUI tenda besar atau payung bagi umat Islam, maka payung tersebut bisa menjadikan orang merasa damai dan tentram, jangan jadi provokator, dan pemecah belah umat,"  tegas Aflatun.


Dengan begitu, ia berharap MUSDA ini menjadi momentum untuk evaluasi  guna membawa MUI lebih baik.


MUSDA adalah forum musywarah tingkat tinggi di daerah, jadi harus dilaksanakan dengan baik,  cermat dan jangan lupa evalusi. Kalau peminpin  sebelumnya, ada kekurangan dan kelebihan, untuk kelebihan dipertahan. Yang kurang bisa diperbaiki.


"Semoga MUI Kota Palembang bisa jadi contoh untuk MUI di 16 kota lain di Sumsel," sebutnya.


Sedangkan agenda MUSDA yang sekaligus pemilihan ketua MUI yang baru masa bakti 2017-2022. Aflatun Muchtar berpesan pilihlah ketua yang baik dari aspek pendidikan, sebagai ulama, da'i, dan mampu memberdayakan masyarakat, mampu berinovasi dan membuka wacana baru  dalam menjalankan tugas.