Palembang - Upaya melestarikan produk khas Palembang, Pemerintah Kota Palembang akan membukukan dan memasukan kain tradisional khas kota ini dalam kurikulum sekolah. “Kain-kain tradisional ini ada sejarahnya. Kita perlu mengetahuinya. Karena ternyata songket ada makna filosofisnya,” ujar Wakil Wali Kota Palembang, Fitrianti Agustinda, saat berkunjung di Centra Tenun dan Tajung Jalan Aiptu Wahab, Kelurahan Tuan Kentang, Kecamatan Seberang Ulu I, Kamis (9/3/2017).

Maka, Pemkot Palembang berencana akan menerbitkan buku yang membahas tentang sejarah  kain tradisional khas Palembang. Selain itu, wawasan tentang kearifan lokal dimasukkan dalam pelajar di sekolah-sekolah  kota Palembang.

"Kita akan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Palembang, untuk mengenalkan songket, jumputan, blongsong, tajung, atau kain tradisional lain kepada anak-anak sekolah. Rencananya juga akan dimasukan dalam kurikulum.  Dengan demikian, anak-anak sekolah akan menganal kain tradisional dan mengetahui keberadaan industri UMKM ini. Sekaligus  Anak-anak sekolah ini bisa belajar membuat kain tradisional," ujarnya.

Namun, yang terpenting yakni langkah pemerintah akan patenkan motif-motif dari kain tradisional tersebut. "Kalau songket sudah, yang lain-lain juga harus di patenkan. Jangan sampai negara lain mengklaim karya kita,"  ucapnya.

Menurut Fitri, kain tradional sangatlah  bagus tak kalah dengan kain modern lainnya. Bahkan, kain tradisonal disukai banyak orang dan cocok untuk dibuat berbagai jenis baju.

"Saya tadi saksikan langsung bagaimana buatnya, ternyata susah, wajarlah kalau mahal harganya. Alhamdulillah bagus-bagus sekali kainnya, saya suka," ungkap Finda.

Terkait langkah pemasaran, Pemkot Palembang akan menjadikan acara Asian Games 2018 sebagai moment tepat mengenalkan kain khas Palembang.  Nanti di hotel-hotel akan disediakan stand, atau di pameran-pameran untuk pengrajin untuk memasarkan produk.

"Kain-kain ini bisa dijadikan oleh-oleh tamu saat Asian Games. Mudah-mudahan kain tradisonal khas Palembang semakin terkenal hingga ke kancah internasional, " katanya.

Atas kunjungan tersebut, Fitri pun mengetahui beberapa kendala pengrajin kain tradisonal di Palembang, salah satunya terkait sulitnya bahan baku. "Sekarang tahu, ke depan harapan kami jangan sampai ada lagi pengrajin yang susah mendapatkan bahan baku," ungkapnya. Dan sebelum pulang, Fitrian Agustinda memborong sejumlah kain para pengrajin tersebut.

Pemilik Centra Tanun dan Tajung, H Udin Abdillah, membenarkan bahwa beberapa bahan baku pembuatan kain tradisonal harus didatangkan dari luar kota.

"Benang susah dapatnya dari Cina ke Surabaya, baru ke Palembang. Kita sudah tangan ke 3, makanya harganya masal. Begitu juga dengan pewarna mendatangkan dari luar kota," jelas Udin.