Palembang - Diakui peran perempuan sangat penting dalam melindungi keluarga dari hal yang tak diinginkan misalnya seperti penyalahgunaan narkoba. Hal ini disampaikan Brigjen Polisi DR Victor, narasumber dari Badan Narkotika Nasional. Dikatakan Victor, ibu harus menjadi intel di keluarga, dengan demikian penyalahangunaan narkoba oleh anggota keluarga dapat terdeteksi sejak dini.

Hal ini disampaikan Victor di acara penyuluhan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2012 bertajuk Peran Ormas Perempuan terhadap Perindungan Bahaya Penyalahgunaan Narkoba di Kota Palembang, Rabu (8/3/2017) di Grand Atyasa Convention Center.

Sejumlah organisasi perempuan se-Palembang mengikuti Penyuluhan, kegiatan ini diterlaksana atas  kerjasama Kesbangpol, Badan Narkotika Kota Palembang, dan ormas perempuan dengan mendatangkan narasumber dari Bandan Narkotika Nasional, Brigjen Pol Dr Victor SpB FICD DFM.

"Iya, tadi saya ajari ibu-ibu bagaimana tes urin narkoba, tapi mau pakai tes urin atau tidak. Jangan sampai saat anaknya ditangkap si ibu marah-marah. Ibu harus peka dengan perubahan anak, kalau anaknya rajin tiba-tiba malas, atau dulunya malas tiba-tiba rajin, dulu bangun pagi saja pakai disiram, tiba-tiba jam 3 bagun pagi sudah rapi saat ditanya mau sekolah. Jangan-jangan anak mau ke tampat bandar narkoba. Atau kalau anak pulang jam 2 pagi, harus ditanyai, ke mana, atau ada masalah apa,  harus diajak bicara," jelasnya.

"Alat tes urin dijual bebas, ada kok di apotek. Ada yang sigle atau multiple. Kalau multiple harganya lebih mahal, kalau tidak, bisa hubungi BNK,"  sebutnya.

Diterangkan dia, ada dua jenis penyalahguna narkotika, pertama pemakai atau pasien, ke dua bandar atau pengedar. Untuk kategori  pemakai merupakan korban akan direhabilitasi, karena itu wajib lapor.

"Jangan tukut, tidak dihukum. Hubungi pihak BNN atau BNK nanti diobati. Jangan dikira Badan Narkotika  itu hanya menangkap,  di BNN aatau BNK ada unsur kesehatan, pencegahan, dan penindakan. Kalau pasien atau penguna nanti diobati." ucapnya.

Adapun saat ini Pemerintah Indonesia memiliki beberapa  tempat rehabilitasi, yakni di Jawa Barat, Makasar, Samarinda, Batam, dan akan dibangun juga di Medan, Lampung dan Sumsel. Untuk pemakai narkoba yang akan direhabilitasi bebas untuk memilih dimana lokasi yang diingingkan, sebab ada beberapa keluarga yang mengangap aib sehingga memilih tempat yang lebih khusus.

"Misal, orang Palembang, tidak harus direhabilitasi di Palembang, bisa ke luar kota, bebas, nanti kalau sudah sembuh baru pulang, tetapi ada juga yang ingin di Palembang, sebab pertimbangan jarak. Semua tergantung dana, psikoligis, dan aib. Ada bebarapa orang tua  yang malu. Bahkan ada juga anaknya dibawa keluar negeri, seolah-oleh kuliah, padahal anak sedang dirahabilitasi. Untuk di empat tempat yang sediakan oleh negara gratis. Namun, dari jumlah 5 juta penguna baru bisa menampung 200 ribu orang. Masih ada 4980 orang, maka boleh rehabilitasi di luar, dan siapa pun boleh mendirikan tempat rehabilitasi. Nanti ada bantuan dari BNN atau BNK mungkin dapat dana pelatihan," jelasnya.

Namun yang perlu diingat, lanjut Victor, narkoba tidak hanya  denda, penjara dan hukuman mati, tetapi dosa besar menurut agama. Tidak hanya badan pemakai yang hancur, tatapi orang lain juga bisa hancur. Ketika pengemudi pakai narkoba menabarak, orang lain bisa celaka.

"Yang belum pakai jangan sekali pun pakai, , kalau yang sudah terlanjur pakai, ayo direhabilitasi, yang bajingan bandar berhentilah. Karena itu pelaku kajahatan narkoba  haeus diberantas dan dimiskinkan. Kalau tidak dimiskinkan bisa dibaiki sipir penjara, kalau hartanya sudah dirampas negara dia tidak bisa apa-apa lagi," himbaunya.

Kepala BNK Palembang, Ismail Ishak, mengatakan pencegahan penyalahgunaan narkotika harus dilakukan sejak dari dalam kandungan, jangan sampai janin di dalam perut terkontaminasi dengan norkoba.

"Ibu adalah tolak ukur keluarga, ibu adalah sumber di dalam kehidupan keluarga jangan sampai anak terkena narkoba akibat ibu yang memakai narkoba saat hamil. Pencegahan harus dilakukan sejak dini," ujarnya.

Dengan demikian, BNK terus gencar bersosialisasi kemasyarakat tentang bahaya penyalahgunaan narkoba. Di sekolah, BNK membentuk Gerakan Siswa Anti Narkoba (GESAN), dan di masyarakat umum di bentuk Gerakan Ibu Anti Narkoba (GIAN).

"Sudah lama kita bentuk, untuk GIAN kita melibatkan ibu-ibu PKK, yang dikoordinir oleh pak camat dan ibu camat. Diseluruh kecamatan di Palembang sudah kita bentuk. Harapannya ibu-ibu ini yang akan meneruskan informasi tentang bahaya narkoba kepada masyarakat di sekitarnya," ungkapnya.

Ketua Darmawanita Palembang, Rosmala Dewi Harrobin Mustafa mengatakan, kita disinimengunakan sistem ketok tular, yakni  ibu-ibu yang sudah tahu akan menularkan kepada yang lain.  

"Harapan kita setelah acara ini, ibu-ibu jadi lebih  paham dengan bahaya penyalahgunaan narkoba . Setelah paham akan peduli dan kemudian ikut tergerak untuk mencegah. Mudah-mudahan mereka yang hadir hari ini menyebarkan apa yang didapat ke lingkungan sekitar.

Adapun ormas perempuan yang hadir dalam penyuluhan tersebut, yakni PKK,  Darmawanita, Persatuan Istri Prajurit (Persit) TNI Angkatan Darat Kartika Chandra Kirana, Persatuan Istri TNU Angkatan Laut Jalasenastri,  Persatuan istri TNI Angkatan Udara PIA Ardhya Garini, persatuan istri Polisi Bhayangkari, Ikatan Pengusaha Wanita (IWAPI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), dan dari  Puskemas.  Sebagai tambahan informasi, BNK Palembang dapat dihubungi melalui nomor 085100464792. (*).